“Dari nol ya mas..”, begitu
senyum ramah seorang wanita karyawan sebuah SPBU Pertamina sebelum mulai
mengisi tangki kendaraan bermotor para pelanggan, termasuk hari ini aku
memutuskan untuk tangki motorku dengan bahan bakar sebelum memulai rutinitasku
di pagi ceria.
Seperti biasa antrian begitu
panjang di bagian pengisian bahan bakar premium di SPBU langgananku. Sudah
menjadi pemandangan biasa sebenarnya jika ada antrian seperti itu, karena
bensin premium sudah seperti oksigen, dibutuhkan dimana-mana, merakyat.
Aku sendiri tidak ambil pusing
dengan antrian seperti itu, karena aku sedari jauh sudah melirik kata ‘BIO PERTAMAX
92’ pada pompa di SPBU sebelum aku berbelok masuk ke sana. Tidak terlalu banyak
pelanggan mengantri. Mereka belum sepenuhnya mengerti, begitu batinku berkoar
ketika kulihat berjejer sepeda motor keluaran terbaru menyesaki antrian pompa
berisi bahan bakar bensin tersebut.
Selang satu mobil, akhirnya aku
giliran untuk mengisi tangki sepeda motorku. Ketika ‘Pertamax’ mulai mengucur
deras dari Nozzle, aku merasa
sepertinya sepeda motorku diberi kesegaran berlimpah, dalam hati ku
terkekeh-kekeh, berlebihan sekali, atau terpengaruh sugestiku sendiri saat
melihat cairan berwarna biru itu berpindah tempat. Tanpa ragu aku jejali penuh
tangki motorku ini dengan si Biru mantap ini. Setelah selesai mengucap terima
kasih, ku melesat keluar SPBU.
Semua terasa menyenangkan,
tarikan mesin, raungan mesin yang halus, perseneling yang memanjakan, apa saja.
Semula aku berpikir inilah efeknya ketika spesifikasi mesin sepeda motorku yang
memang disarankan untuk cocok dengan ‘Pertamax’ ini. Tapi ketahuilah bahwa
baruku tahu, ‘Pertamax’ ini menyimpan banyak keistimewaan, sekalipun dihadapkan
pada ‘kakaknya’ yang ada embel-embel ‘Plus’. Aku mengakui setiap keunggulan yang ada
padanya.
Semua ini berawal ketika aku dibelikan
oleh ayahku sebuah sepeda motor yang ‘pasti lelaki’. Karakter mesin yang baru
kuketahui sangat berbeda dengan yang sudah-sudah, maksudku karakter mesin yang
membutuhkan bahan bakar yang juga berkarakteristik lebih tinggi dari bahan
bakar bensin biasa. Bahan bakar tanpa timbal sangat disarankan, dengan begitu
aku harus tahu jenis BBM yang digunakan.
Apa sih ‘Pertamax’ itu?Hanyalah
beda di warna saja mungkin, aku tebak biasa saja seperti premium, tidak akan
signifikan terasa perbedaannya, begitu buruk sangkaku dahulu. Namun, ciri
khasku adalah selalu mencari, membandingkan dan ingin tahu, seperti apakah
bahan bakar yang digembar-gemborkan salah satu instansi BUMN ternama nasional
ini hingga terkesan istimewa sekali ‘Pertamax’ ini.
Aku memandang keluar jendela
kamar kosku, sepeda motor masih beraura keluaran dealer, baru, tersenyum ku
dibuatnya. Saat itu aku sedang berbincang dengan seorang teman kampus yang juga
freak dengan roda dua. “Pakaiin
pertamax terus tuh, joss..”, celetuk temanku. Aku mengiyakan saja sarannya,
yang dalam batinku berkecamuk dengan pengeluaran yang bisa-bisa boros nantinya.
Temanku tampaknya membaca pikiranku. Lantas dia menerangkan panjang lebar,
intinya semua ada pada kandungan oktan yang disarankan mesin untuk penggunaan
bahan bakar minyak. Sedangkan sepeda motor terbaru rata-rata bermesin yang
membutuhkan bahan bakar berjenis seperti itu.
Aku benar-benar mulai yakin saat
temanku menjelaskan masalah oktan lebih lanjut padaku. Temanku mengatakan bahwa
oktan di BBM adalah angka yang menunjukkan berapa besar tekanan maksimum yang
bisa diberikan di dalam mesin, sebelum bensin terbakar secara spontan. Di dalam
mesin, campuran bensin dan udara bisa terbakar sendiri sebelum terkena percikan
api dari busi. Jadi, kata dia, semakin kecil angka oktannya, semakin lama
bensin itu terbakar spontan. Pembakaran yang tidak spontan ini yang menimbulkan
gejala ngrosok di dalam mesin.
Sejenak ku tertegun, kemudian lantas tertawa dalam hati, mungkin maksudnya
gejala ngelitik yang banyak
orang-orang bengkel katakan.
“Tapi ya terserah kamu bro, mau
pakai premium ya silakan, kalau aku jadi kamu, pertamax deh pokoknya..yahud
terus..sstt...efeknya jangka panjang loh..hehe..”, katanya inilah yang mulai membuatku
tambah yakin. Aku harus membuktikan perkataannya suatu saat. Mulailah aku terus mengisi ‘Pertamax’ disetiap
aku mengisi bahan bakar.
Selang beberapa kilometer
pemakaian sepeda motorku...
Tampaknya sepeda motor
kesayanganku ini harus masuk bengkel, perawatan itu harus. Baru aku tahu
ternyata memang jadwal untuk melakukan servis rutin. Tetapi mengapa aku baru
sadar sekarang, apa selama ini aku tidak merasakan ada ketidakberesan di sepeda
motorku, entahlah, yang penting sudah jadwal servis rutin, aku paling anti jika
tidak disiplin untuk perawatan sepeda motor.
Lantas dilakukanlah servis rutin,
aku selalu memantau pergerakan mekanik dalam mengutak-atik sepeda motorku ini. Bongkar
sana-sini, karburator, busi, blok mesin, dan sebagainya. Tiba-tiba salah satu
mekanik yang menangani motorku berkata padaku, “Mas, pakai pertamax ya,
pantesan aja enak bersihinnya, kalo kaya gini terus bisa awet mas mesinnya..”,
kata mekanik itu sambil kagum. Aku jawab saja, jika memang kalau pakai
‘Pertamax’ itu bikin sepeda motor enak untuk dikendarai. Batinku bersorak, satu
bukti penjelasan temanku terbukti rupanya. Tak terasa servis rutin telah
selesai dilakukan. Usai urusan, aku pun pulang dengan hati senang dan lega.
Rutinitas hari-hariku selanjutnya
begitu menyenangkan, sekalipun banyak dihabiskan untuk berkendara di jalan kota
maupun jalan lintas daerah, benar-benar menikmati tungganganku dengan sensasi
‘Pertamax’ yang kugunakan. Sampai suatu ketika ada hasrat untuk lebih memacu
sepeda motorku untuk lebih cepat. Saat itu perjalanan tengah malam, dan jalanan
lurus, dan sepi sekali. Kuurut gas perlahan kecepatan mulai meningkat, terasa
halus disetiap akselerasinya. Tak disangka di depanku terlihat sepeda motor
lain yang menurut bahasa otomotifnya, satu kelas dengan tungganganku ini. Bukan
bermaksud berbalap liar, namun dengan kondisi jalan seperti ini, tidak ada
salahnya mencoba adu nyali. Kala itu dengan mengirim gerak sinyal dan senyum
ramah, pengendara tersebut mengerti dan seketika melesatkan motornya, aku pun
demikian. Tak disangka momen berikutnya membuatku tersenyum, ternyata dengan
mudah sekali tarikan, aku dapat menyusulnya. Selang beberapa saat, tanpa
berlama-lama dan kondisi jalan tidak kondusif lagi, aku dan biker tersebut menepi untuk sekedar
ngobrol, basa-basi penasaran akhirnya aku tahu bahwa motornya mengonsumsi bahan bakar dari SPBU
selain Pertamina. Entah mengapa pada akhirnya aku menyarankan untuk mencoba
menggunakan Pertamax saja. Sejenak dia terdiam, namun aku tahu dia seperti
menyiratkan rasa tertarik menggunakan si Biru itu. Tak lama, obrolan kami usai,
setelah saling tukar menukar info kontak, kami berpisah. Aku tak tahu bagaimana
selanjutnya yang dilakukan teman
baruku itu.
Memang aku akui, biaya untuk
mengisi pertamax lumayan menguras finansial bulananku, terlebih aku seorang
mahasiswa. Sempat terpikir untuk memilih hemat saja dengan beralih ke bensin
premium. Ada minggu dimana aku memenuhi tangki sepeda motorku dengan bensin
premium. Alih-alih demi penghematan, aku kehilangan sensasi berkendara yang
memanjakan di atas tunggannganku. Aku teringat seorang teman ketika dia sempat
memberi saran padaku jika sudah terbiasa memakai Pertamax, lebih baik tetap
memakainya, jangan turun kualitas bahan bakar. Seakan dia mengerti kondisi ku,
lantas dia mengatakan bahwa keuntungan menggunakan pertamax ada saat
penggantian suku cadang sepeda motor. Aku goyah kembali, kembali aku
menggunakan si Biru mantap itu.
Untung tak dapat diraih, malang tak
dapat ditolak. Hingga akhirnya suatu kondisi dimana mengharuskan aku untuk
pergi keluar kota menjelang tengah malam. Aku memutuskan untuk menunggangi
sepeda motorku. Jalanan terasa lengang saat itu. Aku sudah hampir memasuki
kota, ketika di jalan lurus, seorang wanita tiba-tiba menyebrang jalan. Aku
terkejut setengah mati. Dan itulah yang terjadi.
Aku tahu sepeda motorku saatnya
melakukan servis secara total, servis besar kebanyakan para rider menyebutnya. Namun bukan seperti
inii caranya. Bagian depan sepeda motorku hancur total. Perkara ringan
sebenarnya, ketika aku membawanya ke bengkel perbaikan, hanya masalah waktu dan
biaya saja. Kuputuskan tidak hanya melakukan pembaruan di sektor kepala sepeda
motor, namun perawatan kompleks pada mesin.
1 Bulan lamanya berlalu. Aku
mendapati sepeda motorku layaknya baru saja kubeli. Tanganku sudah sedikit
gemetar ketika mekanik utama pada bengkel tersebut menyodorkan rincian perbaikan
yang dilakukan. Aku mengabaikan daftar suku cadang untuk mengganti sektor
kepala sepeda motor, karena aku sudah estimasi biaya sebelumnya. Namun aku
ingin melihat ketika dilakukan servis besar, apa saja yang bermasalah. Mataku
mengekor turun melihat kertas rincian itu, aku mengernyitkan dahi. Apa benar
hanya ini?. Dengan ramah, sang mekanik menawarkan aku untuk sedikit
berbincang-bincang. “Iya mas, dari pemeriksaan yang saya lakukan, kondisi mesin
masih bagus, kecuali bagian rantai camshaft
yang memang saatnya penggantian karena sudah 3 tahun. Saya juga terus
terang agak heran, karena kebanyakan orang yang servis besar motornya dengan
saya, banyak keluhan terutama dari mesin dan saluran karburator dengan yang
namanya fuel pump-nya, gitu mas..”,
Jelasnya. Aku hanya mengangguk-angguk. Dia melanjutkan lagi,
“ Tapi wong masnya saya lihat pakai pertamax, sepertinya rutin masnya
pakai?”,
Aku menganggukkan kepala kembali,
“Iya, 2 tahun terakhir ini saya
pakai pertamax terus kok mas, ya cuma menuruti saran buku manual mas, sama
denger saran dari para temen-temen”.
“Tapi mas tahu nggak, selain menuruti saran buku
manual, penggunaan Pertamax di mesin juga dilandaskan pada berbagai keunggulan
dan keuntungan mas.”, katanya.
“Oyah??.” Aku pura-pura tidak
mengerti, karena sebenarnya sudah banyak tahu mengapa aku disarankan memakai
pertamax. Namun siapa tahu, mekanik ini dapat menjelaskan sesuatu yang lebih
teknis, bisa mendapat pengetahuan baru, pikirku.
Akhirnya sang mekanik lanjut
menerangkan, “Iya mas, motor mas ini kan spesifikasi mesinnya menuntut
menggunakan bahan bakar minyak dengan Oktan minimal 90. Mas mungkin tahu apa
itu oktan. Jadi penggunaan pertamax pada kendaraan mas ini bisa saya bilang
keputusan yang tepat.”
Lanjutnya, “Kalau mas lebih jeli,
saya bisa bilang penggunaan Pertamax bisa meningkatkan efisiensi hingga 50%
lebih lho mas”
“Kok bisa?”
“Ketika Pertamax memenuhi ruang
pembakaran, karena karakter bahan bakar menyatu dengan mesinnya, semakin saling
mendukung, pembakaran terjadi dengan sempurna, maka semakin iritlah konsumsi
BBM-nya. Aku berani bilang, mas pasti juga kadang isi premium kan?”, tanyanya.
“Iya sih, tapi ngerasa lebih
boros aja, meski bensin harganya murah”
“Maka dari itu, Pertamax memang
banyak keunggulannya jika memang mau jeli sedikit. Dari tadi mas sudah utarakan ke saya, meski jadwal
servis besar, tapi kok masih enak
dibuat jalan, tarikan tetap nyaman, nggak
pernah berasap. Mesin bawaannya mudah di-start,
padahal kondisi dingin.”, terangnya.
“Bener itu mas”, kataku
mempertegas.
Kata mekanik lagi, “Memang terpaut
3000-6000 untuk harganya di tiap liter, namun kita juga harus bijak mas dengan melihat bagaimana sebenarnya
karakter mesin sepeda motor kita. Jangan tergiur dengan harga rakyat, lantas
kita terpancing untuk menyiksa mesin tunggangan kita.”
Aku pun menimpali, “Saya memang
sedikit dibikin penasaran sama Pertamax, baru kutahu kalau adanya pertamax ini juga
sejatinya demi mendukung program melindungi bumi. Memperhatikan emisi gas buang
kendaraan, kenyamanan lebih pengendara kendaraan bermotor, efisiensi dibalik
maraknya pemborosan energi berupa bahan bakar, jadi bisa dikatakan penggunaan
pertamax ini sedikit banyak menuntun kita untuk berinvestasi sebenarnya. Dan
lagi Pertamax dapat memperpanjang umur komponen yang terkait dengan ruang
pembakaran, yang ini saya masih belum begitu mengerti dari mana teknisnya bisa
seperti itu.”
“Nah, tentang pernyataan terakhir yang mas bilang, ada yang menarik. Mas
lihat ini cuma beberapa yang diganti”, kata mekanik sembari menyodorkan dan
menaruh telunjuk pada bagian rincian servis besar.
Aku mengangguk saja.
“Kebanyakan kasus servis besar
yang saya tangani, saya mendapati saluran pembakaran yang langsung mengarah
karburator mereka pasti sudah kotor sekali, ini sangat rawan. Mungkin bisa
dilihat langsung mas ke sini.”, mekanik mengajak saya meninjau langsung
komponen yang dimaksud.
Lanjutnya, sembari menunjukkan ke
saya komponen yang dimaksud tadi, “ini sering saya dapati sudah kotor mas begitu mereka ingin servis besar, mas tahu apa efeknya kalau ini
dibiarkan?Bisa langsung mengancam blok mesinnya. Sebenarnya tidak seperti itu
apabila mereka memperhatikan bahan bakarnya”
“Maksud mas, hanya beberapa gelintir saja ya yang menggunakan Pertamax di motornya”, kataku memastikan.
“Bisa dibilang seperti itu, tapi
saya tidak bilang banyak, ini berdasarkan beberapa kasus servis besar yang saya
tangani. Ujung-ujungnya mereka harus ganti blok mesin. Harganya nggak murah, ini termasuk jajaran
komponen slow moving dan paling mahal
untuk bagian mesin.”, mekanik menrangkan.
“Wah..pakai pertamax jadi untung dong
ya mas.”, aku berusaha menyimpulkan.
“Tepat. Di sepeda motor mas ini, saluran emisi gas buang dan
pembakaran masih bersih, padahal sudah 3 tahun lebih, kerak wajar ada, tapi
cukup disembur udara tekanan, sudah bersih sekali, benar-benar berbeda efeknya
kalau saya mendapati pelanggan yang memakai bahan bakar selain Pertamax. “
Lanjut mekanik sambil menunjukkan
kertas rincian, “Makanya mas bisa
dilihat disini, seandainya mas nggak pakai Pertamax, biaya total
perbaikannya bisa bertambah jauh lebih banyak, bisa-bisa nyampe 50% lagi. Bandingkan
deh sama pengeluaran sehari-hari
untuk beli Pertamax, cukup bijak kan mas”.
“Wah....untung aja saya tetep
setia sama Pertamax.”, Kataku menyimpulkan, lagi.
“Tetaplah seperti itu mas, malah enak lho mas, di stan pertamax di SPBU biasanya kan jarang ngantri
banyak tuh, jadi malah tambah bisa
menghemat waktu. Oke mas, silakan ini
nota pembayarannya, motor tinggal tancap gas, kalau ada apa-apa di mesin, mas bisa kembali kesini saya tangani.”,
mekanik membereskan urusan.
Setelah mengucap terima kasih, saya
keluar area bengkel. Senangnya tungganganku bisa “sembuh” seperti sediakala.
Kugeber gas dengan nyaman. Selamat sampai di rumah.
Esoknya, rutinitas kembali menghampiri
aku, seperti biasa, selalu ditemani sepeda motorku yang “baru”. Pagi ini aku
mulai jalan, namun Indikator bahan bakar digital
telah menyala merah pertanda tangki harus diisi kembali. Ketika tak lama aku
melihat dari kejauhan melihat SPBU langgananku. Aku menoleh pada stasiun dengan
tulisan “BIO PERTAMAX 92” sebelum akhirnya aku berbelok memasuki SPBU itu.
“Mbak, PERTAMAX full tank yah mbak!”, Ucapku seraya tersenyum dan membatin, pakai Pertamax
pasti lebih untung.

halo juga mas Diest,
BalasHapuswah km yg kemarin juara 4 ya. selamat juga, tulisannya bagus :)
sukses terus