Senin, 30 Juli 2012

Sekali PERTAMAX, tetap PERTAMAX bos..!



“Dari nol ya mas..”, begitu senyum ramah seorang wanita karyawan sebuah SPBU Pertamina sebelum mulai mengisi tangki kendaraan bermotor para pelanggan, termasuk hari ini aku memutuskan untuk tangki motorku dengan bahan bakar sebelum memulai rutinitasku di pagi ceria. 

 Seperti biasa antrian begitu panjang di bagian pengisian bahan bakar premium di SPBU langgananku. Sudah menjadi pemandangan biasa sebenarnya jika ada antrian seperti itu, karena bensin premium sudah seperti oksigen, dibutuhkan dimana-mana, merakyat. 


Aku sendiri tidak ambil pusing dengan antrian seperti itu, karena aku sedari jauh sudah melirik kata ‘BIO PERTAMAX 92’ pada pompa di SPBU sebelum aku berbelok masuk ke sana. Tidak terlalu banyak pelanggan mengantri. Mereka belum sepenuhnya mengerti, begitu batinku berkoar ketika kulihat berjejer sepeda motor keluaran terbaru menyesaki antrian pompa berisi bahan bakar bensin tersebut. 

Selang satu mobil, akhirnya aku giliran untuk mengisi tangki sepeda motorku. Ketika ‘Pertamax’ mulai mengucur deras dari Nozzle, aku merasa sepertinya sepeda motorku diberi kesegaran berlimpah, dalam hati ku terkekeh-kekeh, berlebihan sekali, atau terpengaruh sugestiku sendiri saat melihat cairan berwarna biru itu berpindah tempat. Tanpa ragu aku jejali penuh tangki motorku ini dengan si Biru mantap ini. Setelah selesai mengucap terima kasih, ku melesat keluar SPBU. 
Semua terasa menyenangkan, tarikan mesin, raungan mesin yang halus, perseneling yang memanjakan, apa saja. Semula aku berpikir inilah efeknya ketika spesifikasi mesin sepeda motorku yang memang disarankan untuk cocok dengan ‘Pertamax’ ini. Tapi ketahuilah bahwa baruku tahu, ‘Pertamax’ ini menyimpan banyak keistimewaan, sekalipun dihadapkan pada ‘kakaknya’ yang ada embel-embel ‘Plus’.  Aku mengakui setiap keunggulan yang ada padanya.

Semua ini berawal ketika aku dibelikan oleh ayahku sebuah sepeda motor yang ‘pasti lelaki’. Karakter mesin yang baru kuketahui sangat berbeda dengan yang sudah-sudah, maksudku karakter mesin yang membutuhkan bahan bakar yang juga berkarakteristik lebih tinggi dari bahan bakar bensin biasa. Bahan bakar tanpa timbal sangat disarankan, dengan begitu aku harus tahu jenis BBM yang digunakan. 

Apa sih ‘Pertamax’ itu?Hanyalah beda di warna saja mungkin, aku tebak biasa saja seperti premium, tidak akan signifikan terasa perbedaannya, begitu buruk sangkaku dahulu. Namun, ciri khasku adalah selalu mencari, membandingkan dan ingin tahu, seperti apakah bahan bakar yang digembar-gemborkan salah satu instansi BUMN ternama nasional ini hingga terkesan istimewa sekali ‘Pertamax’ ini. 

Aku memandang keluar jendela kamar kosku, sepeda motor masih beraura keluaran dealer, baru, tersenyum ku dibuatnya. Saat itu aku sedang berbincang dengan seorang teman kampus yang juga freak dengan roda dua. “Pakaiin pertamax terus tuh, joss..”, celetuk temanku. Aku mengiyakan saja sarannya, yang dalam batinku berkecamuk dengan pengeluaran yang bisa-bisa boros nantinya. Temanku tampaknya membaca pikiranku. Lantas dia menerangkan panjang lebar, intinya semua ada pada kandungan oktan yang disarankan mesin untuk penggunaan bahan bakar minyak. Sedangkan sepeda motor terbaru rata-rata bermesin yang membutuhkan bahan bakar berjenis seperti itu.

Aku benar-benar mulai yakin saat temanku menjelaskan masalah oktan lebih lanjut padaku. Temanku mengatakan bahwa oktan di BBM adalah angka yang menunjukkan berapa besar tekanan maksimum yang bisa diberikan di dalam mesin, sebelum bensin terbakar secara spontan. Di dalam mesin, campuran bensin dan udara bisa terbakar sendiri sebelum terkena percikan api dari busi. Jadi, kata dia, semakin kecil angka oktannya, semakin lama bensin itu terbakar spontan. Pembakaran yang tidak spontan ini yang menimbulkan gejala ngrosok di dalam mesin. Sejenak ku tertegun, kemudian lantas tertawa dalam hati, mungkin maksudnya gejala ngelitik yang banyak orang-orang bengkel katakan. 

“Tapi ya terserah kamu bro, mau pakai premium ya silakan, kalau aku jadi kamu, pertamax deh  pokoknya..yahud terus..sstt...efeknya jangka panjang loh..hehe..”, katanya inilah yang mulai membuatku tambah yakin. Aku harus membuktikan perkataannya suatu saat.  Mulailah aku terus mengisi ‘Pertamax’ disetiap aku mengisi bahan bakar.

Selang beberapa kilometer pemakaian sepeda motorku...

Tampaknya sepeda motor kesayanganku ini harus masuk bengkel, perawatan itu harus. Baru aku tahu ternyata memang jadwal untuk melakukan servis rutin. Tetapi mengapa aku baru sadar sekarang, apa selama ini aku tidak merasakan ada ketidakberesan di sepeda motorku, entahlah, yang penting sudah jadwal servis rutin, aku paling anti jika tidak disiplin untuk perawatan sepeda motor.

Lantas dilakukanlah servis rutin, aku selalu memantau pergerakan mekanik dalam mengutak-atik sepeda motorku ini. Bongkar sana-sini, karburator, busi, blok mesin, dan sebagainya. Tiba-tiba salah satu mekanik yang menangani motorku berkata padaku, “Mas, pakai pertamax ya, pantesan aja enak bersihinnya, kalo kaya gini terus bisa awet mas mesinnya..”, kata mekanik itu sambil kagum. Aku jawab saja, jika memang kalau pakai ‘Pertamax’ itu bikin sepeda motor enak untuk dikendarai. Batinku bersorak, satu bukti penjelasan temanku terbukti rupanya. Tak terasa servis rutin telah selesai dilakukan. Usai urusan, aku pun pulang dengan hati senang dan lega.

Rutinitas hari-hariku selanjutnya begitu menyenangkan, sekalipun banyak dihabiskan untuk berkendara di jalan kota maupun jalan lintas daerah, benar-benar menikmati tungganganku dengan sensasi ‘Pertamax’ yang kugunakan. Sampai suatu ketika ada hasrat untuk lebih memacu sepeda motorku untuk lebih cepat. Saat itu perjalanan tengah malam, dan jalanan lurus, dan sepi sekali. Kuurut gas perlahan kecepatan mulai meningkat, terasa halus disetiap akselerasinya. Tak disangka di depanku terlihat sepeda motor lain yang menurut bahasa otomotifnya, satu kelas dengan tungganganku ini. Bukan bermaksud berbalap liar, namun dengan kondisi jalan seperti ini, tidak ada salahnya mencoba adu nyali. Kala itu dengan mengirim gerak sinyal dan senyum ramah, pengendara tersebut mengerti dan seketika melesatkan motornya, aku pun demikian. Tak disangka momen berikutnya membuatku tersenyum, ternyata dengan mudah sekali tarikan, aku dapat menyusulnya. Selang beberapa saat, tanpa berlama-lama dan kondisi jalan tidak kondusif lagi, aku dan biker tersebut menepi untuk sekedar ngobrol, basa-basi penasaran akhirnya aku tahu bahwa  motornya mengonsumsi bahan bakar dari SPBU selain Pertamina. Entah mengapa pada akhirnya aku menyarankan untuk mencoba menggunakan Pertamax saja. Sejenak dia terdiam, namun aku tahu dia seperti menyiratkan rasa tertarik menggunakan si Biru itu. Tak lama, obrolan kami usai, setelah saling tukar menukar info kontak, kami berpisah. Aku tak tahu bagaimana selanjutnya yang dilakukan teman baruku itu.

Memang aku akui, biaya untuk mengisi pertamax lumayan menguras finansial bulananku, terlebih aku seorang mahasiswa. Sempat terpikir untuk memilih hemat saja dengan beralih ke bensin premium. Ada minggu dimana aku memenuhi tangki sepeda motorku dengan bensin premium. Alih-alih demi penghematan, aku kehilangan sensasi berkendara yang memanjakan di atas tunggannganku. Aku teringat seorang teman ketika dia sempat memberi saran padaku jika sudah terbiasa memakai Pertamax, lebih baik tetap memakainya, jangan turun kualitas bahan bakar. Seakan dia mengerti kondisi ku, lantas dia mengatakan bahwa keuntungan menggunakan pertamax ada saat penggantian suku cadang sepeda motor. Aku goyah kembali, kembali aku menggunakan si Biru mantap itu.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Hingga akhirnya suatu kondisi dimana mengharuskan aku untuk pergi keluar kota menjelang tengah malam. Aku memutuskan untuk menunggangi sepeda motorku. Jalanan terasa lengang saat itu. Aku sudah hampir memasuki kota, ketika di jalan lurus, seorang wanita tiba-tiba menyebrang jalan. Aku terkejut setengah mati. Dan itulah yang terjadi.

Aku tahu sepeda motorku saatnya melakukan servis secara total, servis besar kebanyakan para rider menyebutnya. Namun bukan seperti inii caranya. Bagian depan sepeda motorku hancur total. Perkara ringan sebenarnya, ketika aku membawanya ke bengkel perbaikan, hanya masalah waktu dan biaya saja. Kuputuskan tidak hanya melakukan pembaruan di sektor kepala sepeda motor, namun perawatan kompleks pada mesin. 

1 Bulan lamanya berlalu. Aku mendapati sepeda motorku layaknya baru saja kubeli. Tanganku sudah sedikit gemetar ketika mekanik utama pada bengkel tersebut menyodorkan rincian perbaikan yang dilakukan. Aku mengabaikan daftar suku cadang untuk mengganti sektor kepala sepeda motor, karena aku sudah estimasi biaya sebelumnya. Namun aku ingin melihat ketika dilakukan servis besar, apa saja yang bermasalah. Mataku mengekor turun melihat kertas rincian itu, aku mengernyitkan dahi. Apa benar hanya ini?. Dengan ramah, sang mekanik menawarkan aku untuk sedikit berbincang-bincang. “Iya mas, dari pemeriksaan yang saya lakukan, kondisi mesin masih bagus, kecuali bagian rantai camshaft yang memang saatnya penggantian karena sudah 3 tahun. Saya juga terus terang agak heran, karena kebanyakan orang yang servis besar motornya dengan saya, banyak keluhan terutama dari mesin dan saluran karburator dengan yang namanya fuel pump-nya, gitu mas..”, Jelasnya. Aku hanya mengangguk-angguk. Dia melanjutkan lagi, 

“ Tapi wong masnya saya lihat pakai pertamax, sepertinya rutin masnya pakai?”, 

Aku menganggukkan kepala kembali, 

“Iya, 2 tahun terakhir ini saya pakai pertamax terus kok mas, ya cuma menuruti saran buku manual mas, sama denger saran dari para temen-temen”.
“Tapi mas tahu nggak, selain menuruti saran buku manual, penggunaan Pertamax di mesin juga dilandaskan pada berbagai keunggulan dan keuntungan mas.”, katanya.
“Oyah??.” Aku pura-pura tidak mengerti, karena sebenarnya sudah banyak tahu mengapa aku disarankan memakai pertamax. Namun siapa tahu, mekanik ini dapat menjelaskan sesuatu yang lebih teknis, bisa mendapat pengetahuan baru, pikirku.

Akhirnya sang mekanik lanjut menerangkan, “Iya mas, motor mas ini kan spesifikasi mesinnya menuntut menggunakan bahan bakar minyak dengan Oktan minimal 90. Mas mungkin tahu apa itu oktan. Jadi penggunaan pertamax pada kendaraan mas ini bisa saya bilang keputusan yang tepat.”
Lanjutnya, “Kalau mas lebih jeli, saya bisa bilang penggunaan Pertamax bisa meningkatkan efisiensi hingga 50% lebih lho mas”
“Kok bisa?”
“Ketika Pertamax memenuhi ruang pembakaran, karena karakter bahan bakar menyatu dengan mesinnya, semakin saling mendukung, pembakaran terjadi dengan sempurna, maka semakin iritlah konsumsi BBM-nya. Aku berani bilang, mas pasti juga kadang isi premium kan?”, tanyanya.
“Iya sih, tapi ngerasa lebih boros aja, meski bensin harganya murah”
“Maka dari itu, Pertamax memang banyak keunggulannya jika memang mau jeli sedikit. Dari tadi mas sudah utarakan ke saya, meski jadwal servis besar, tapi kok masih enak dibuat jalan, tarikan tetap nyaman, nggak pernah berasap. Mesin bawaannya mudah di-start, padahal kondisi dingin.”, terangnya.
“Bener itu mas”, kataku mempertegas.

Kata mekanik lagi, “Memang terpaut 3000-6000 untuk harganya di tiap liter, namun kita juga harus bijak mas dengan melihat bagaimana sebenarnya karakter mesin sepeda motor kita. Jangan tergiur dengan harga rakyat, lantas kita terpancing untuk menyiksa mesin tunggangan kita.”

Aku pun menimpali, “Saya memang sedikit dibikin penasaran sama Pertamax, baru kutahu kalau adanya pertamax ini juga sejatinya demi mendukung program melindungi bumi. Memperhatikan emisi gas buang kendaraan, kenyamanan lebih pengendara kendaraan bermotor, efisiensi dibalik maraknya pemborosan energi berupa bahan bakar, jadi bisa dikatakan penggunaan pertamax ini sedikit banyak menuntun kita untuk berinvestasi sebenarnya. Dan lagi Pertamax dapat memperpanjang umur komponen yang terkait dengan ruang pembakaran, yang ini saya masih belum begitu mengerti dari mana teknisnya bisa seperti itu.”

Nah, tentang pernyataan terakhir yang mas bilang, ada yang menarik. Mas lihat ini cuma beberapa yang diganti”, kata mekanik sembari menyodorkan dan menaruh telunjuk pada bagian rincian servis besar. 

Aku mengangguk saja.

“Kebanyakan kasus servis besar yang saya tangani, saya mendapati saluran pembakaran yang langsung mengarah karburator mereka pasti sudah kotor sekali, ini sangat rawan. Mungkin bisa dilihat langsung mas ke sini.”, mekanik mengajak saya meninjau langsung komponen yang dimaksud.

Lanjutnya, sembari menunjukkan ke saya komponen yang dimaksud tadi, “ini sering saya dapati sudah kotor mas  begitu mereka ingin servis besar, mas tahu apa efeknya kalau ini dibiarkan?Bisa langsung mengancam blok mesinnya. Sebenarnya tidak seperti itu apabila mereka memperhatikan bahan bakarnya”

“Maksud mas, hanya beberapa gelintir saja ya yang menggunakan Pertamax di motornya”, kataku memastikan.

“Bisa dibilang seperti itu, tapi saya tidak bilang banyak, ini berdasarkan beberapa kasus servis besar yang saya tangani. Ujung-ujungnya mereka harus ganti blok mesin. Harganya nggak murah, ini termasuk jajaran komponen slow moving dan paling mahal untuk bagian mesin.”, mekanik menrangkan.

Wah..pakai pertamax jadi untung dong ya mas.”, aku berusaha menyimpulkan.

“Tepat. Di sepeda motor mas ini, saluran emisi gas buang dan pembakaran masih bersih, padahal sudah 3 tahun lebih, kerak wajar ada, tapi cukup disembur udara tekanan, sudah bersih sekali, benar-benar berbeda efeknya kalau saya mendapati pelanggan yang memakai bahan bakar selain Pertamax. “

Lanjut mekanik sambil menunjukkan kertas rincian, “Makanya mas bisa dilihat disini, seandainya mas nggak pakai Pertamax, biaya total perbaikannya bisa bertambah jauh lebih banyak, bisa-bisa nyampe 50% lagi. Bandingkan deh sama pengeluaran sehari-hari untuk beli Pertamax, cukup bijak kan mas”.

“Wah....untung aja saya tetep setia sama Pertamax.”, Kataku menyimpulkan, lagi.

“Tetaplah seperti itu mas, malah enak lho mas, di stan pertamax di SPBU biasanya kan jarang ngantri banyak tuh, jadi malah tambah bisa menghemat waktu. Oke mas, silakan ini nota pembayarannya, motor tinggal tancap gas, kalau ada apa-apa di mesin, mas bisa kembali kesini saya tangani.”, mekanik membereskan urusan.

Setelah mengucap terima kasih, saya keluar area bengkel. Senangnya tungganganku bisa “sembuh” seperti sediakala. Kugeber gas dengan nyaman. Selamat sampai di rumah.

Esoknya, rutinitas kembali menghampiri aku, seperti biasa, selalu ditemani sepeda motorku yang “baru”. Pagi ini aku mulai jalan, namun Indikator bahan bakar digital telah menyala merah pertanda tangki harus diisi kembali. Ketika tak lama aku melihat dari kejauhan melihat SPBU langgananku. Aku menoleh pada stasiun dengan tulisan “BIO PERTAMAX 92” sebelum akhirnya aku berbelok memasuki SPBU itu. 

“Mbak, PERTAMAX full tank yah mbak!”, Ucapku seraya tersenyum dan membatin, pakai Pertamax pasti lebih untung.


 

1 komentar:

  1. halo juga mas Diest,
    wah km yg kemarin juara 4 ya. selamat juga, tulisannya bagus :)

    sukses terus

    BalasHapus